Minggu, Juli 06, 2008

Ikhlas kah kita?

Ketika kesusahan itu tidak tampak oleh kita, kita masih mampu berkata bahwa kita ikhlas menjalani hidup ini. Namun, bagaimana jika kesusahan itu tampak oleh kita? Belum tentu kita mampu mengatakan kita ikhlas menghadapinya. Ketika ada agenda dakwah yang meminta kita mempertaruhkan nyawa, sering kita menghindar darinya. Apakah ini sebuah tanda bahwa dakwah yang kita tekuni selama ini kita jalani dengan ikhlas atau tidak?

Kita tahu, bahkan sering kita dengar lewat taujih/tausiyah, bahwa sesunggunya kita ini adalah milik Allah, karena Allah sudah membeli kita. Tetapi kenapa, ketika datang agenda dakwah yang menuntut kita mengorbankan harta dan waktu, kita selalu berusaha menghindar. Ini adalah sebuah ujian dari Allah untuk melihat siapa sesungguhnya yang ikhlas dalam berdakwah. Siapa yang benar-benar memahami dakwah secara menyeluruh, yang tidak pernah mengenyampingkan antara aspek ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah.

Terkadang secara fikriyah kita sangat memahami bahwa tidak akan tegak Dinul Islam tapa jihad, tetapi ketika ada panggilan i'dad untuk berjihad kita menolak. Atau secara ruhiyah kita sangat memahami bahwa bidadari sedang menanti para syuhada di surga Allah, tetapi ketika ada panggilan jihad kita mencari jalan untuk menghindar. Terkadang kita mengatakan "yang lebih kuat lah yang duluan". Atau "ada yang lebih pantas untuk menjalaninya". Atau "secara fisik saya belum memenuhi syarat untuk mengikuti i'dad tersebut". Atau juga "saya tidak memiliki muyul/kecenderungan kearah sana".

Apakah kita pantas menjawab dengan jawaban seperti itu? Bukankah kita tahu bahwa kita ini milik Allah? Apakah yang kita takuti selain Allah? Apakah kita takut akan kematian yang sudah pasti akan mendapati kita? Hanya waktunya saja yang kita tidak tahu kapan maut akan menghampiri kita. Lalu kenapa kita harus takut?

Semua itu bisa terjadi kalau kita berdakwah tidak sempurna, syumul, menyeluruh. Kalau kita tidak ikhlas karena Allah dalam berdakwah, ujian kematian dalam menjalankan tugas dakwah akan membuktikannya. Apakah kita termasuk golongan yang mau enaknya saja. ketika dakwah ini sedang diatas angin kita bergabung, namun ketika dakwah ini membutuhkan jiwa dan harta kita untuk menegakkan agama Allah kita mencari langkah untuk menghindar darinya. Pantaskah itu terjadi dalam diri kita?

Mari senantiasa kita perbaharui niat kita. Perbaharui keikhlasan kita pada Allah. Terus dan terus memperbaiki. Terus dan terus berdzikir dan istighfar. Agar hati ini dekat dengan Allah dan tidak ada rasa takut, khawatir, was-was dalam diri kita ketika Allah meminta nyawa kita.

Tidak ada komentar: